FYI

SafelinkU | Shorten your link and earn money

Popular Posts in last 30 days

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Perilaku Yang Mendatangkan Berkah

Copas:
Kisah Inspiratif

30 tahun yg lalu, seorg istri pengusaha di Washington tak sengaja kehilangan tasnya di dalam Rumah Sakit di malam musim dingin.

Sang pengusaha tampak sangat gelisah, lalu berusaha mencarinya pada malam itu juga. Karena di dalam tasnya tidak hanya berisi 100.000 ribu Dolar AS (sekitar Rp.1.3 miliar), tapi juga ada informasi pasar yg sangat rahasia.

Ketika Anderson, si pengusaha tersebut, tiba di Rumah Sakit, dia melihat seorg bocah perempuan kurus sedang berjongkok.

Bocah itu tampak menggigil di sudut koridor Rumah Sakit yg sunyi sambil mendekap sebuah tas.

Si pengusaha langsung mengenali itu adalah tas isterinya yg jatuh.

Ternyata bocah bernama Seada ini, ke Rumah Sakit menemani ibunya yg sakit keras.

Ibu & anak yg miskin ini, telah menjual semua barang2 yg bisa dijual.

Uang yg terkumpul juga hanya cukup utk biaya pengobatan semalam.

Apabila tidak ada uang, maka besok akan didepak dari Rumah Sakit.

Malam itu, Seada yg tak berdaya mondar-mandir di koridor Rumah Sakit.

Dia menatap ke atas & memohon kepadaNya, bertemu dg seseorang yg baik hati untuk menyelamatkan ibunya.

Tiba2, tas yg terselip di bawah ketiak seorang wanita yg turun ter-buru2 dari loteng, jatuh tanpa disadarinya ketika melewati koridor rumah sakit.

Mungkin ia merasa masih ada sesuatu di bawah ketiaknya, sampai2 tidak sadar tasnya jatuh.

Saat itu hanya ada Seada sendiri di koridor.

Dia berjalan mengambil tas itu, kemudian bergegas berlari ke pintu.

Sayangnya wanita itu telah naik ke sebuah mobil & berlalu dari hadapannya.

Seada kembali ke kamar pasien tempat ibunya dirawat.

Ketika dia membuka tas itu, ibu & anak ini pun tercengang melihat tumpukan uang tunai di dalamnya.

Detik itu juga, terlintas dalam benak mereka kalau uang itu mungkin bisa digunakan untuk menyembuhkan sakit ibunya.

Namun, ibu Seada menyuruh putrinya mengembalikan tas itu ke koridor, menunggu pemiliknya datang mengambilnya.

Orang yg kehilangan uang itu pasti sangat cemas.

“Seyogianya yg harus kita lakukan dalam hidup ini adalah membantu org lain, kita juga seyogianya ikut cemas dg apa yg dicemaskan org lain & hal yg paling tidak patut kita lakukan adalah serakah dg harta yg tak jelas asal usulnya,” kata ibu Seada.

Anderson pun mendapatkan kembali tasnya. Dia terharu dg perilaku bocah itu.

Anderson berupaya membantu perawatan ibu bocah itu.

Sayangnya meskipun Anderson sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu Seada tak terselamatkan.

Dia meninggalkan anak perempuannya menjadi sebatang kara di dunia.

Anderson kemudian mengadopsi Seada, merawat & menyekolahkannya.

Setelah mendapatkan tasnya, Anderson bukan saja mendapatkan kembali 100.000 Dollar AS miliknya, tapi yg terpenting adalah informasi pasar yg hilang itu akhirnya didapatkan kembali.

Itu membuat bisnis pengusaha itu seketika melonjak & menjadi milyuner.

Seada yg telah diadopsi oleh Anderson sejak ibunya meninggal ketika itu, telah menamatkan kuliahnya & membantu bisnis sang milyuner.

Meski Anderson belum memberikan tugas sebenarnya, namun dalam praktik jangka panjangnya, kecerdasan & pengalaman Anderson telah mempengaruhi Seada secara tidak langsung.

Hal itu menjadikan Seada sebagai sosok org yg matang.

Saat memasuki usia senjanya, Anderson selalu meminta pendapat Seada mengenai pandangannya.

Detik2 menjelang masa kritisnya, Anderson meninggalkan sebuah surat wasiat yg mengejutkan. Begini bunyi surat itu.

_"Sy sudah kaya sebelum mengenal ibu Seada. Namun, ketika sy berdiri di depan ibu & anak yg miskin & sedang sakit yg tidak tergoda dg setumpuk uang yg dipungutnya itu, apalagi saat itu mereka sedang membutuhkan uang, sy merasa mereka bahkan jauh lebih kaya dari sy, karena mereka memegang teguh prinsip hidup yg mulia. Itu adalah prinsip yg sangat minim dimiliki pengusaha"_

_"Harta yg sy dapatkan semuanya ini hampir berasal dari berbagai trik & intrik.
Adalah mereka yg membuat sy sadar bahwa modal hidup terbesar dalam hidup seseorang adalah perilaku"_

_"Sy mengadopsi Seada bukan untuk balas budi, juga bukan karena simpati.
Tapi sy mengundang sesosok tauladan. Dg adanya dia di sisi sy, sy bisa mengingat hal mana yg pantas atau tidak dilakukan dalam bisnis. Inilah alasan pokok sy belakangan yg membuat usaha sy terus berkembang makmur & sy menjadi milyuner"_

_"Setelah kematian sy, seluruh harta & aset sy wariskan pada Seada sebagai penerusnya. Ini bukan hadiah, tapi demi agar usaha sy bisa lebih gemilang, sy yakin putra sy yg pintar bisa mengerti dg pertimbangan matang sy selaku ayahnya"_.

Ketika putra Anderson pulang dari luar negeri, dia membaca dg seksama surat wasiat ayahnya.

Dia segera tanpa ragu sedikit pun menandatangani persetujuan tentang surat warisan terkait harta termaksud.

_“Saya setuju Seada mewarisi seluruh aset ayah saya. Saya hanya meminta Seada menjadi isteri saya,”_ katanya.

Melihat putra Anderson menandatangani surat persetujuan warisan tersebut, Seada merenung sejenak, lalu membubuhkan tandatangan.

_“Saya terima seluruh harta maupun aset dari Anderson – Termasuk putranya.”_

*Sekarang, apakah anda telah menyadari dg dalil sederhana di atas?*

Jika anda bersikap dingin pada org lain, maka org lain juga akan bersikap seperti itu.

Jika anda sering mengkritik org lain, anda juga akan mendapatkan banyak kritik.

Jika anda selalu memasang muka cemberut, org lain juga akan membalasnya seperti itu.

Semua yg anda berikan, akan kembali kepada anda.

Selama anda selalu bersikap baik, anda telah menang, singkatnya seperti yg dikatakan penyair, “Apabila anda membenci atau berperilaku buruk/jahat pada org lain, maka dg sendirinya anda juga akan mendapatkan balasan yg sama bahkan mungkin lebih dari itu.”

Sama seperti pribahasa yg berbunyi, “Apa yg kamu tanam itulah yg kamu tuai.”

Segala sesuatu yg anda lakukan pada org lain itulah yg anda lakukan pada diri anda sendiri.

Jadi jika anda ingin mendapatkan sesuatu, maka anda harus membiarkan org lain mendapatkannya dulu.

Jika anda ingin berteman dg seorg teman yg tulus, anda harus bersikap/berteman tulus dulu padanya.

Jika anda ingin bahagia, maka bawalah sukacita pada org lain.

Hal terbaik yg bisa kita lakukan untuk diri sendiri adalah berbuat lebih banyak sesuatu yg baik untuk org lain.

Sering kali, saat kita membantu org lain, tidak berarti kita akan kehilangan.

Tetapi justru karena anda telah membantu org lain, sehingga dg demikian akan mendapatkan persahabatan & teman.

Membantu org lain sama dg memberi sebuah jalan pada kita sendiri.

Dalam hidup itu seharusnya kurangi egois, lebih peduli pada org lain, maka dunia kita akan penuh dg cahaya & pesona.

Hal yg perlu kita lakukan adalah:
1. Berterima kasih pada org yg memberi anda kesempatan.
2. Berterima kasih pada org yg memberimu kearifan.
3. Berterima kasih pada org2 yg menemanimu sepanjang jalan.

Ada beberapa hal yg bisa kita pahami seumur hidup & beberapa hal yg perlu seumur hidup kita untuk memahaminya.

Selalu & teruslah berbuat baik, sekecil apa pun itu, pasti akan semakin dekat dg kebahagiaan.

Selama niat kita baik & selalu melakukan hal2 yg baik, bekerja dg tekun & tidak berulah, pasti akan ada balasan yg positif, percayalah!

Semoga bermanfaat & dapat mengambil hikmahnya.

Source : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214985124762144&id=1249932397

Copas Renungan (dari seorang teman)

Renungan:

1. Jika Kita Memelihara Kebencian/Dendam, maka seluruh 'Waktu dan Pikiran' yang kita miliki akan habis begitu saja dan kita tidak akan pernah menjadi 'Orang yang Produktif'.

2. Kekurangan Orang Lain adalah Ladang Pahala' bagi kita untuk: 
» Memaafkannya,
» Mendoakannya,
» Memperbaikinya, dan
» Menjaga Aib-nya.

3. Bukan Gelar, Jabatan dan kekayaan yang menjadikan 'Orang Menjadi Mulia', Jika kualitas pribadi kita buruk, semua itu hanyalah 'Topeng Tanpa Wajah'.

4. Ciri Seseorang (Pemimpin ) itu " Baik' akan Tampak dari :
» Kematangan Pribadi,
» Buah Karya,
» serta Integrasi antara 'Kata dan Perbuatan'-nya.

5. Jika Kita Belum bisa membagikan Harta atau membagikan Kekayaan, maka Bagikanlah 'Contoh Kebaikan' karena Hal itu akan 'Menjadi Tauladan'.

6. Jangan Pernah Menyuruh Orang lain utk Berbuat Baik, Sebelum Menyuruh Diri Sendiri', Awali segala sesuatunya untuk kebaikan dari Diri Kita Sendiri.

7. Pastikan Kita sudah melakukan yang terbaik dan 'Beramal' hari ini,* Baik dengan :
» Materi,
» dengan Ilmu,
» dengan Tenaga,
» atau Minimal dengan 'Senyuman yang Tulus'.

8. Para Pembohong akan 'Dipenjara oleh Kebohongannya' sendiri. Orang yang Jujur akan 'Menikmati Kemerdekaan' dalam Hidupnya.

9. Bila Memiliki 'Banyak Harta', maka Kitalah yang akan 'Menjaga Harta'.* Namun Jika Kita Memiliki 'Banyak Ilmu', maka Ilmulah yang akan 'Menjaga Kita'.

10. Bila 'Hati Kita Bersih', Tak ada Waktu untuk :
» Berpikir Licik,
» Curang,
» atau Dengki, sekalipun terhadap Orang lain.

11. Bekerja Keras adalah 'Bagian Dari Fisik', Bekerja Cerdas merupakan 'Bagian Dari Otak', sedangkan Bekerja Ikhlas adalah 'Bagian Dari Hati'.

12. Jadikanlah setiap 'Kritik' bahkan 'Penghinaan' yang Kita Terima sebagai 'Jalan Untuk Memperbaiki Diri'.

13. Kita tidak pernah tahu Kapan Kematian akan Menjemput Kita, tapi yang Kita Tahu adalah kematian itu pasti datang dan seberapa Banyak Bekal yang Kita Miliki untuk Menghadapinya.

Source : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214824425064752&id=1249932397

A few minor signs of the "Final Hour" (Beberapa tanda kecil dari "Akhir Jaman")

A few minor signs of the Final Hour are mentioned below.

- Knowledge will disappear.
- Ignorant leaders will be in power.
- There will be an abundance of ignorance.
- Adultery will be common.
- Females will outnumber males.
- There will be an abundance of wealth.
- It will be difficult to act upon the teachings of Islam.
- Time will pass very quickly.
- It will be a burden upon people to pay zakat.
- Religious knowledge will be sought for the sake of worldly benefits.
- Husbands will be obedient to their wives.
- Children will prefer their friends over their parents.
- Children will disobey their parents.
- People will shout in masajid (prayer halls).
- Dancing and singing will be very common.
- Descendants will curse their forefathers.
- Animals will speak.
- Immoral individuals will be respected.
- Those worthy of respect will be insulted.
- Shepherds will live in palaces.
- Women will be naked despite wearing clothes.
- Women will adopt the lifestyle and appearance of men.
- Men will adopt the lifestyle and appearance of women.
- Fitna will be widespread continuously.
- The breaking of oaths will become common.
- Evil individuals will be respected for their oppression.


Beberapa tanda kecil dari Akhir Jaman disebutkan di bawah ini. - Ilmu Pengetahuan akan hilang. - Pemimpin yang bodoh akan berkuasa. - Akan ada banyak ketidaktahuan. - Perzinahan akan umum terjadi. - Jumlah perempuan akan melebihi jumlah laki-laki. - Akan ada banyak kekayaan. - Akan sulit untuk bertindak berdasarkan ajaran Islam. - Waktu akan berlalu dengan sangat cepat. - Ini akan menjadi kesulitan bagi orang untuk membayar zakat. - Pengetahuan religius akan dicari demi keuntungan duniawi. - Suami akan taat kepada istri mereka. - Anak-anak akan lebih memilih teman mereka daripada orang tua mereka. - Anak-anak akan tidak taat kepada orang tua mereka. - Orang akan berteriak di masajid (ruang sholat). - Menari dan menyanyi akan sangat umum. - Keturunan akan mengutuk nenek moyang mereka. - Hewan akan berbicara - Individu yang tidak bermoral akan dihormati. - Mereka yang layak dihormati akan dihina. - Gembala akan tinggal di istana. - Wanita akan telanjang meski memakai baju. - Wanita akan mengadopsi gaya hidup dan penampilan pria. - Pria akan mengadopsi gaya hidup dan penampilan wanita. - Fitnah akan terus meluas. - Pembatalan sumpah akan menjadi hal biasa. - Orang jahat akan dihormati karena penindasan mereka.

QUESTIONS IN THE GRAVE (PERTANYAAN DI DALAM KUBUR)

QUESTIONS IN THE GRAVE

Ask : Man Rabbuka ? Who is your Lord ?
Answer : Allahu Rabbi . Allah is my Lord .
Ask : Man Nabiyyuka ? Who is your prophet ?
Answer : Muhammadun Nabiyyi . My Prophet is Muhammad
Ask : Ma Dinuka ? What is your religion ?
Answer : Al-Islamu Dini . My religion is Islam
Ask : Man Imamuka ? Who is your Imam ?
Answer : Al Qur'an Imami. My Imam is Al -Qur'an
Ask : Aina Qiblatuka ? Where is your Qibla?
Answer : Al-Ka'batu Qiblati . My Qibla is Ka'aba
Ask : Man Ikhwanuka ? Who are your brothers and sisters ?
Answer : Al-Muslimun Wal Muslimat Ikhwani . Muslimin and Muslimat are my brothers and sisters..
The answer is very simple right?
But, are we able to answer it easily?
When our body lying on the belly of the earth.
When darkness , slamming the fear.
When the body , shivering.
Where nobody can help .
Yes , There is no one who can help us.
Jst the good deeds while in life will help.
Astaghfirullahal ' Adzim ..
Forgive us Oh ALLAH ..
We are only a servant , always do sins and evil
Ya ALLAH ...
Allow us, forever seek for Your Maghfirah and Mercy ..
Show us the way towards the bright light of Thy ..
Guide us to the straight path .
So that we do not lost ...
Aamiin Yaa Rabbal ' Aalamiin.
Ya Allah Please help us and give us Your Jannatul Firdaus.(Aameen)


PERTANYAAN DI DALAM KUBUR

Tanya: Man Rabbuka? Siapakah Tuhanmu?
Jawaban: Allahu Rabi. Allah adalah Tuhanku
Tanya: Man Nabiyyuka? Siapakah nabi kamu?
Jawaban: Muhammadun Nabiyyi. Nabi saya adalah Muhammad
Tanya: Ma Dinuka? Apa agamamu ?
Jawaban: Al-Islamu Dini. Agama saya adalah Islam
Tanya: Man Imamuka? Siapakah Imam Anda?
Jawaban: Al Qur'an Imami. Imam saya adalah Al-Qur'an
Tanya: Aina Qiblatuka? Dimana kiblatmu?
Jawaban: Al-Ka'batu Qiblati. Kafilah saya adalah Ka'bah
Tanya: Man Ikhwanuka? Siapakah saudara laki-laki dan perempuanmu?
Jawaban: Al-Muslimun Wal Muslimat Ikhwani. Muslimin dan Muslimat adalah saudara dan saudari saya ..
Jawabannya sangat sederhana kan?
Tapi, bisakah kita menjawabnya dengan mudah?
Saat tubuh kita terbaring di perut bumi.
Saat kegelapan, dIbanting ketakutan.
Saat tubuh menggigil.
Dimana tidak ada yang bisa membantu
Ya, tidak ada orang yang bisa menolong kita.
Hanyalah perbuatan baik sementara dalam hidup akan membantu.
Astaghfirullahal 'Adzim ..
Maafkan kami Oh ALLAH ..
Kita hanyalah seorang hamba, selalu melakukan dosa dan kejahatan
Ya Allah ...
Izinkan kami, teruslah mencari Maghfirah dan Rahmatmu ..
Tunjukkan jalan menuju cahaya terang Mu ..
Bimbing kami ke jalan yang lurus.
Sehingga kami tidak tersesat ...
Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.

Ya Allah tolong bantu kami dan berikan kami Jannatul Firdausmu. (Aamiin)

source : https://www.facebook.com/islaamforall/posts/1710017739013891

DEATH: A BEAUTIFUL GIFT FOR A BELIEVER (KEMATIAN: HADIAH YANG INDAH UNTUK ORANG-ORANG YANG PERCAYA)


"To Allah (Almighty God) we belong, and to Him is our return." (Qur'an 2:156)

Multitudes of men have walked on the surface of this Earth. They all belonged to different nations and cultures. A few of them made history for which they were remembered, whereas others were never to be mentioned again. Although each one was personally different from another - their habits, thinking and tastes differed - they all had two things in common, first, they were all delivered from their mothers womb (birth) and second, they all tasted death. Who claims he has lived a thousand years?
"The Sun travels to an appointed place. This is the decree of the Mighty, the All-Knowing." (Qur'an 36:38)

Almighty God blesses us with all His gifts. The Sun gives us light during the day to help us see and it helps our crops grow so that we can eat. But the Sun also teaches us other things. Almighty God causes the day to die with its setting and allows the night to take over, which is a time for rest. In this way, He may be showing us that all of us will eventually have to die just like the day. And when the Sun rises in the morning again after our period of rest, it is as if Almighty God is telling us that we too will be raised to life after we have died. These are all signs of Almighty God to teach us to take care of our life.
One thing that we must remember is that death is inevitable, and everything except the Almighty God of course, will perish. Signs of death can be seen all around us. At funerals we see people who were once walking among us being buried in their graves. In the fall we see the leaves turn from green to yellow and fall one at a time, and in the winter we see trees, lifeless. In this way, all things in this world will wither away and die.

According to an old fable, a man made an unusual agreement with Hazrat Izraeel (pbuh) - the angel of death. He told Izraeel (pbuh) that he would be willing to accompany him (as though he had a choice) only if Izraeel (pbuh) would send him a notice well in advance. The agreement was made. Weeks became months and the months into years. One bitterly cold night, as the man sat alone thinking of his success in life, Izraeel (pbuh) tapped on his shoulder. "You are here too soon" the man cried out. "You sent no messenger. I thought we had an agreement!" Izraeel (pbuh) whispered "Notice your hair, once it was full and black, now it has streaks of silver in it! Observe your face in the mirror and see the wrinkles. Yes! I have sent many messages through the years! I have kept my part. I am sorry that you are not ready for me but the order of Almighty God cannot be averted!"

Hence, hair color turning gray from black or wrinkles on the face are also the signs of nearing death, and the Almighty God is the only one who can bring the dead back to life.

Surely all men die, and just surely Almighty God give them life with His ability, and judges them on their deeds and actions. We know Almighty God is the Creator and can recreate us, because if one can do something he has the ability to do it again.For instance, if your teacher asks you to draw a picture on the blackboard and color it. Then if after you have drawn it with beautiful colors, the teacher asks you to rub it out and do it again, could you repeat the same drawing again?Of course you would be able to repeat the picture. It is what you created and are capable of doing again.

From this example, we can understand Almighty God is able to give life to the dead because it is He Who created us in the beginning. Almighty God can surely give life to the dead. He judges them on their deeds. On Resurrection Day He will re-create the dead for judgment, and then allow the doer of good to enter paradise but cast the evil-doer into hell.

Hatred towards death and love of the world is the outcome of an ignorant person's mind, who thinks that the happiness of this world is his prosperity and good fortune. The world beset with numerous troubles and anxieties is about to end in misery and does not enjoy eternity, perpetuity and sincerity. A poet has referred to this in the following words - "Do not give your heart to this world, for its example is of an unfaithful bride who has never loved you, even for a night." Imam Ali (pbuh) says: "If man will see how speedily his death is coming toward him he will abhor ambitions and will give up admiring the world."

It is of utmost importance that man should hold death dear and consider it an opportunity of meeting with his Almighty, and not hate it and consider it as evil, but should take lessons from it. He should ask forgiveness from Almighty for his sins and tame the rebellious self (Nafs). When the call of his Lord comes, he should welcome it with open arms accepting it to be a blessing from Almighty. He should be contented with the decree (Qadr) of Almighty. He should also rejoice that shortly he would be taken to the presence of Ahlul Bait [Household of Prophet] (pbut) and meet his deceased companions and other believer brothers. He should also not be disheartened by the delay in death but should consider it as an opportunity afforded by Almighty to him to repent. This delay would give him a chance to gather provisions useful for his journey to the other world, for the journey is tiresome and full of dangerous valleys and difficult paths.

In fact a believer always remembers death, since his or her main goal is to reach the Almighty God. Hazrat Qasim (pbuh), the son of Imam Hasan Al-Mujtaba (pbuh), when asked concerning death at Karbala, answered: "Death to me is sweeter than honey." Therefore true believers, those who are sincerely devoted to the Almighty God, anticipate death since to them it signifies the long-awaited meeting with their creator.

During imprisonment, Imam Ali An-Naqi, Al-Hadi (pbuh) had a grave dug up ready by the side of his prayer mat. Some visitors expressed concern or surprise. The Imam explained, "In order to remember my end I keep the grave before my eyes." Before a believer approaches the final moment of his/her life and death overtakes him, it is necessary that he wakes up from the state of negligence and prepares for the final everlasting place. This way he will be able to avoid bewilderment and the fear of the so-called untimely death.

Translasi :

"Kepada Allah (Yang Maha Kuasa) kita milik, dan kepada-Nya adalah kita.kembali" (Al Qur'an 2: 156)

Banyak orang telah berjalan di permukaan bumi ini. Mereka semua berasal dari berbagai negara dan budaya. Beberapa dari mereka membuat sejarah yang mereka ingat, sementara yang lain tidak pernah disebutkan lagi. Meskipun masing-masing berbeda dari yang lain - kebiasaan, pemikiran dan selera mereka berbeda - mereka semua memiliki dua kesamaan, pertama, semuanya dikirim dari rahim ibu mereka (kelahiran) dan kedua, semuanya merasakan kematian. Siapa yang mengklaim dirinya telah hidup seribu tahun?

"Matahari pergi ke tempat yang telah ditentukan. Inilah keputusan Yang Perkasa, Yang Mengetahui." (Al Qur'an 36:38)

Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati kita dengan semua karunia-Nya. Matahari memberi kita cahaya siang hari untuk membantu kita melihat dan membantu tanaman kita tumbuh sehingga kita bisa makan. Tapi Matahari juga mengajarkan hal-hal lain kepada kita. Tuhan yang Maha Kuasa menyebabkan hari mati dengan setting dan memungkinkan malam untuk mengambil alih, yaitu saat untuk beristirahat. Dengan cara ini, Dia mungkin menunjukkan kepada kita bahwa kita semua pada akhirnya harus mati sama seperti hari itu. Dan ketika Matahari terbit di pagi hari lagi setelah masa istirahat kita, seolah-olah Tuhan Yang Maha Kuasa mengatakan kepada kita bahwa kita juga akan dihidupkan kembali setelah kita meninggal. Inilah semua tanda-tanda Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengajarkan kita mengurus kehidupan kita.

Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa kematian tak terelakkan, dan segala sesuatu kecuali Tuhan Yang Maha Esa tentu saja, akan binasa. Tanda-tanda kematian bisa dilihat di sekitar kita. Di pemakaman kita melihat orang-orang yang pernah berjalan di antara kita dikubur di kuburan mereka. Pada musim gugur kita melihat daun berubah dari hijau menjadi kuning dan jatuh satu per satu, dan di musim dingin kita melihat pepohonan, tak bernyawa. Dengan cara ini, semua hal di dunia ini akan layu dan mati.

Menurut sebuah dongeng tua, seorang pria membuat kesepakatan yang tidak biasa dengan Hazrat Izraeel (pbuh) - malaikat kematian. Dia mengatakan kepada Izraeel bahwa dia akan bersedia menemaninya (seolah-olah dia punya pilihan) hanya jika Izraeel (pbuh) akan mengiriminya pemberitahuan sebelumnya. Kesepakatan itu dibuat. Minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun. Suatu malam yang sangat dingin, saat pria itu duduk sendirian memikirkan kesuksesannya dalam hidup, Izraeel (pbuh) mengetuk bahunya. "Anda di sini terlalu cepat" teriak pria itu. "Anda tidak mengirim utusan, saya pikir kita punya kesepakatan!" Izraeel (pbuh) berbisik "Perhatikan rambutmu, setelah itu penuh dan hitam, sekarang ada garis-garis perak di dalamnya! Amati wajahmu di cermin dan lihat keriputnya Ya, aku telah mengirim banyak pesan selama bertahun-tahun! Saya merasa menyesal bahwa Anda belum siap untuk saya tapi perintah Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat dihindari! "

Oleh karena itu, warna rambut yang berubah abu-abu dari hitam atau keriput di wajah juga merupakan tanda-tanda mendekati kematian, dan Tuhan Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya yang bisa menghidupkan orang mati kembali.

Tentunya semua orang mati, dan pastilah Tuhan Yang Mahakuasa memberi mereka hidup dengan kemampuanNya, dan menilai mereka atas perbuatan dan tindakan mereka. Kita tahu Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Sang Pencipta dan dapat menciptakan kita, karena jika seseorang dapat melakukan sesuatu, ia memiliki kemampuan untuk melakukannya lagi. Misalnya, jika gurumu meminta Anda menggambar di papan tulis dan mewarnainya. Lalu jika setelah Anda menggambarnya dengan warna yang indah, guru meminta Anda menggosoknya dan melakukannya lagi, bisakah Anda mengulangi gambar yang sama lagi? Tentu saja Anda bisa mengulang gambar itu. Itu adalah apa yang Anda ciptakan dan mampu lakukan lagi.

Dari contoh ini, kita bisa mengerti bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dapat memberikan hidup kepada orang mati karena Dialah yang menciptakan kita pada mulanya. Tuhan Yang Maha Kuasa pasti bisa memberikan hidup kepada orang mati. Dia menghakimi mereka atas perbuatan mereka. Pada Hari Kebangkitan Dia akan menciptakan kembali orang mati untuk penghakiman, dan kemudian membiarkan pelaku baik masuk surga namun melemparkan pelaku kejahatan ke dalam neraka.

Kebencian terhadap kematian dan cinta dunia adalah hasil dari pikiran orang yang bodoh, yang berpikir bahwa kebahagiaan dunia ini adalah kemakmuran dan keberuntungannya. Dunia yang dilanda berbagai masalah dan kecemasan akan berakhir dengan kesengsaraan dan tidak menikmati kekekalan, kekekalan dan ketulusan. Seorang penyair telah merujuk hal ini dengan kata-kata berikut - "Jangan berikan hatimu ke dunia ini, karena teladannya adalah seorang pengantin yang tidak setia yang tidak pernah mencintaimu, bahkan untuk semalam." Imam Ali (pbuh) mengatakan: "Jika manusia akan melihat betapa cepat kematiannya menimpanya, dia akan membenci ambisi dan akan menyerah untuk mengagumi dunia."

Adalah sangat penting bahwa manusia harus menahan kematian dengan baik dan menganggapnya sebagai kesempatan untuk bertemu dengan Yang Mahakuasa, dan tidak membencinya dan menganggapnya sebagai kejahatan, tapi harus mengambil pelajaran darinya. Dia harus meminta pengampunan dari Yang Maha Kuasa atas dosa-dosanya dan menjinakkan diri yang memberontak (Nafs). Ketika panggilan Tuhannya datang, dia harus menyambutnya dengan tangan terbuka yang menerimanya sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa. Dia harus puas dengan keputusan (Qadr) Yang Mahakuasa. Dia juga harus bersukacita bahwa sebentar lagi dia akan dibawa ke hadapan Ahlul Bait [rumah tangga Nabi] (pbut) dan bertemu dengan teman-teman almarhum dan saudara laki-laki beriman lainnya. Dia juga harus tidak berkecil hati dengan penundaan kematian tapi harus menganggapnya sebagai kesempatan yang diberikan oleh Maha Kuasa kepadanya untuk bertobat. Penundaan ini akan memberinya kesempatan untuk mengumpulkan bekal yang berguna untuk perjalanannya ke dunia lain, karena perjalanannya melelahkan dan penuh dengan lembah-lembah dan jalan yang sulit.

Sebenarnya orang beriman selalu mengingat kematian, karena tujuan utamanya adalah mencapai Tuhan Yang Maha Esa. Hazrat Qasim (anak), putra Imam Hasan Al-Mujtaba (pbuh), ketika ditanya tentang kematian di Karbala, menjawab: "Kematian saya lebih manis dari pada madu." Oleh karena itu orang-orang percaya sejati, mereka yang dengan tulus mengabdikan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengantisipasi kematian karena bagi mereka itu menandakan pertemuan yang telah lama dinanti dengan pencipta mereka.


Selama pemenjaraan, Imam Ali An-Naqi, Al-Hadi (pbuh) memiliki sebuah kuburan yang digali siap di samping sajadahnya. Beberapa pengunjung menyatakan keprihatinan atau kejutan. Imam menjelaskan, "Untuk mengingat akhir saya, saya menyimpan kuburan di depan mata saya." Sebelum seorang percaya mendekati saat terakhir dari kehidupan dan kematiannya menyusulnya, perlu agar dia terbangun dari keadaan kelalaian dan bersiap untuk tempat abadi terakhir. Dengan cara ini dia akan bisa menghindari kebingungan dan ketakutan akan kematian yang terlalu dinI.

SOURCE : https://www.facebook.com/islaamforall/posts/1707030009312664

Deskripsi tentang Dajjaal, dan hadits menceritakan tentangnya.

Description of the Dajjaal, and the ahaadeeth narrated concerning him
The Dajjaal will be a man from among the sons of Adam. He will have many attributes which were described in the ahaadeeth to acquaint people with him and to warn them of his evil. So when he comes, the believers will know him and will not be misled by him; they will know his features which the Truthful One (the Prophet) (peace and blessings of Allaah be upon him) has told us about. These features will distinguish him from other people, so that no one will be deceived by him except those who are ignorant and whose doom has already been decreed. We ask Allaah to keep us safe and sound.
Among these attributes are:
He will be a young man with a ruddy complexion, short, with thick curly hair, a wide forehead, and broad upper chest, blind or defective (mamsooh) in the right eye. This eye will be neither prominent nor sunken, and will look like a floating grape.
His left eye will be covered with a thick piece of flesh growing at the edge of his eye. Written between his eyes will be “Kaaf faa’ raa’ (K-F-R)”, in separate (Arabic) letters, or “kaafir”, with the letters joined. This will be read by every Muslim, literate or illiterate.

Terjemahan :

Deskripsi tentang Dajjaal, dan hadits menceritakan tentang dia

Dajjaal akan menjadi manusia dari antara anak-anak Adam. Dia akan memiliki banyak atribut yang dijelaskan di hadits untuk mengenalkan orang kepadanya dan untuk memperingatkan mereka tentang kejahatannya. Jadi ketika dia datang, orang-orang percaya akan mengenalnya dan tidak akan disesatkan olehnya; Mereka akan mengetahui ciri-cirinya yang diceritakan oleh Juruselamat yang Sejati (Nabi saw.). Fitur-fitur ini akan membedakannya dari orang lain, sehingga tidak ada yang tertipu olehnya kecuali orang-orang yang bodoh dan yang malapetaka telah diputuskan. Kami meminta Allah untuk menjaga kita tetap aman dan sehat.

Di antara atribut ini adalah:
Dia akan menjadi pria muda dengan kulit kemerahan, pendek, dengan rambut keriting tebal, dahi yang lebar, dan dada bagian atas yang lebar, buta atau cacat (mamsooh) di mata kanan. Mata ini tidak menonjol dan tidak tenggelam, dan akan terlihat seperti buah apung.
Mata kirinya akan ditutupi dengan sepotong daging tebal yang tumbuh di ujung matanya. Ditulis di antara matanya akan "Kaaf faa 'raa' (K-F-R)", dalam huruf-huruf terpisah (Arab), atau "kafir", dengan huruf-hurufnya digabungkan. Ini akan dibaca oleh setiap Muslim, terpelajar atau buta huruf.

source: https://www.facebook.com/1498910920365807/photos/a.1588401768083388.1073741829.1498910920365807/1917272675196294/?type=3&theater

Dear Women, Your body is sacred & unique



MOET LEES ASB JULLE JONG DAME EN MEISIES 

Two young ladies arrived to a meeting wearing clothes that were quite revealing their body parts. Here is what the Chairman told them: He took a good look at them and made them sit. Then he said something that, they might never forget for the rest of their lives. 

He looked at them straight in the eyes and said; "ladies, everything that God has valuable in this world is well covered and hard to see, find or get.

1. Where do you find DIAMONDS? Deep down in the ground, covered and protected.

2. Where do you find PEARLS? Deep down at the bottom of the ocean, covered up and protected in a beautiful shell.

3. Where do you find GOLD? Way down in the mine, covered over with layers of rock and to get them, you have to work hard & dig deep down to get them.

He looked at them with serious eyes and said;

"Your body is sacred & unique" You are far more precious than gold, diamonds and pearls, and you should be covered too. So he added that, "If you keep your treasured mineral just like gold, diamond and pearls, deeply covered up, a reputable mining organization with the requisite machinery will fly down and conduct years of extensive exploration."

Then he said, "First, they will contact your government (family), sign professional contracts (wedding) and mine you professionally( legal marriage). But if you leave your precious minerals uncovered on the surface of the earth, you always attract a lot of illegal miners to come and mine you illegally. Everybody will just pick up their crude instruments and just have a dig on you just freely like that. So, keep your bodies deeply covered so that it invite professional miners to chase you."

What to speak??



Hidup Itu Unik,


Hidup itu unik, 

Tiap orang punya kertas soal yang berbeda dengan yang lainnya, Untuk menjawab pertanyaan didalamnya perlu jawaban spesifik yang jelas berbeda untuk setiap pertanyaannya. 

Kemampuan menjawab pertanyaannya pun tergantung kita sendiri, dimana ilmu secara formal dan non formal, pengalaman dan informasi yang diserap dalam kehidupan akan banyak berguna untuk menyelesaikan soal yang diberikan.

Disinilah kita akan menyadari, bahwa nyontek jawaban itu adalah tindakan yang merugikan diri sendiri, karena setiap orang punya soal yang berbeda, Jawaban pertanyaan orang lain hanya bisa dicontek konsepnya saja yang sesuai dengan waktu dan keadaan, dan kemungkinan sama 100% tidaklah ada, karena tiap manusia itu unik, tidak pernah sama. (kecuali dikloning).


Fakta Tentang Mata Manusia, yang Kamu Belum Tahu

Mata adalah anugerah Sang Pencipta yang begitu luar biasa. Tanpa kita sadari mata bekerja sangat keras, unik dan sangat bernilai. Kali ini kita bahas beberapa Fakta Tentang Mata Manusia, yang Kamu Belum Tahu!!!


1. Otot yang bekerja memfokuskan mata bergerak sekitar 1.000.000 kali perhari


 
Hal ini sungguh mencengangkan betapa otot mata bekerja keras dan sangat aktif tanpa kita sadari. Otot mata merubah fokus sekitar 1.000.000 kali perhari untuk menyempurnakan pandangan kita. Sebagai perbandingan, kita harus berjalan sejauh 50 mil untuk membuat otot kaki bekerja sebanding dengan otot mata. Wow!
2. Dari sekitar 10.000 tahun lalu semua manusia bermata coklat.

 
Warna mata biru yang kita temui hari ini adalah hasil dari perubahan genetika yang menunjukkan bahwa manusia masih berevolusi. Diperkirakan lebih dari 10.000 tahun lalu manusia yang hidup di sekitar Black Sea berevolusi dari mata coklat ke hijau. Banyak teori yang mengemukakan bagaimana perubahan warna mata itu berlangsung selama beratus generasi.
3. Mata mampu memandang cahaya redup sebuah lilin dari jarak lebih dari 48 Km!

 
Karena bumi berbentuk bulat maka pandangan mata akan mengikuti kurva, dalam keadaan ini mata normal manusia mampu melihat cahaya redup lilin dalam jarak 3.1 mil atau sekitar 5 km. Namun apabila bumi diasumsikan datar dan tanpa cahaya sama sekali maka mata normal manusia mampu melihat cahaya redup lilin tersebut dalam jarak 30 mil atau sekitar 48 km!

4. Mata manusia mempunyai titik buta (blind spot) yang berbeda antara mata kanan dan mata kiri!


Kedua mata manusia mempunyai blind spot (titik buta) yang berbeda antara mata kanan dan kiri. Itu disebabkan karena mata mempunyai titik buta pada retina, titik dimana otak optik mengarah kembali ke otak. Namun hal yang menakjubkan bahwa mata kiri dan kanan mempunyai titik buta yang segaris simetris. Kalau kamu pengen tahu cara mencari titik buta pada mata, caranya mudah. Coba amati dengan kedua mata kamu, fokus ke tanda “plus” di tengah-tengah lingkaran bulatan-bulatan itu. Amati terus, jaga agar fokus mata Anda tidak berpindah dari tanda "plus" ini dan saksikan apa yang terjadi, bulatan-bulatan itu hilang satu persatu kan?


5. Mata manusia adalah hasil perkembangan dari sebuah evolusi panjang.



Mata kita hari ini adalah sebuah proses panjang sebuah evolusi, dari protein fotoreceptor. Awalnya mata protein fotoreceptor -yang dimiliki organisme uniseluler- hanya berbentuk 'eyespot' yang hanya bisa merasakn kecerahan. Kemudian berevolusi untuk bisa membedakan arah cahaya yang datang. Hal ini dimungkinkan oleh penutup mata multi seluler yang secara berlahan berevolusi tertekan kedalam. Perkembangan retina datang berikutnya. Ketika foton diserap oleh kromofor (bagian dari molekul yang bertanggung jawab untuk warna), reaksi kimia menyebabkan energi foton akan ditransduksi menjadi energi listrik dan disampaikan ke sistem saraf. Sel fotoreseptor ini merupakan bagian dari retina, lapisan tipis sel yang relay informasi visual ke otak. Tahap berikutnya adalah mengurangi lebar pembukaan cahaya menjadi lebih efisien pada peningkatan resolusi visual. Mata masih kekurangan kornea atau lensa yang tentu saja datang untuk berada di tahap berikutnya dari evolusi mata


6. Mata manusia mampu membedakan 10 juta warna yang berbeda. Ya, 10 juta!!



Pada dasarnya ada tiga warna primer (merah, hijau dan biru) yang membentuk sepuluh juta warna yang dibedakan mata manusia. Setiap mata berisi 3 reseptor, satu untuk setiap warna dasar yang berfungsi untuk menciptakan pengalaman warna, jika dirangsang ke berbagai kombinasi. Hal ini disebut Young-Helmholtz Trichromatic theory. Dengan demikian berarti mereka yang mempunyai kerucut yang rusak tidak bisa membedakan warna-warna tertentu atau buta warna.

7. Jika mata manusia adalah kamera digital maka mata kta mempunai resolusi 576 Mega pixel.



Tidak seperti kamera digital yang mengambil gambar sekali jepret, mata kita bekerja seperti video streaming. Bergerak tanpa lelah menyesuaikan sudut yang terkecil sehingga menghasilkan citra terbaik pada otak kita. Karena manusia mempunyai 2 mata, maka jumlah resolusi yang dihasilkan dilipat gandakan sehingga setara dengan kamera beresolusi 576 megapixel.

8. Kornea manusia sangat mirip dengan kornea hiu, yang memungkinkan untuk operasi transpalasi, suatu saat nanti.



 Hiu mempunyai kornea mata yang sangat mirip dengan kornea mata kita. Para peneliti Optometric sedang melakukan riset kemungkinan operasi transpalasi dari kornea hiu ke kornea manusia.

9. Sekitar 1 - 2 persen manusia bermata hijau.



Jumlah tersebut adalah populasi yang sangat sedikit. Hingga kini para ahli masih bekerja keras menyimpulkan proses mutasi genetika tersebut dan mencoba mengaitkan dengan ciri fisik lainnya seperti, rambut merah, prosentase jenis kelamin, dan lain-lain.

10. Protein pengirim visi dari mata ke otak dinamakan Pikachu.



Sebuah tim terdiri dari 18 belas peneliti yang bekerja di Osaka Bioscience Institute menemukan protein baru yang mengirim transmisi mata ke otak. Karena kecepatan protein ini bekerja mereka menamakan Pikachurin (berasal dari kata Pikachu). Tanpa protein ini proses transmisi dari mata ke otak akan lebih lambat 3 kali lipat.

11. Mata manusia berwarna merah ketika di foto dengan flash kamera.



Ini disebabkan karena cahaya flash kamera memantulkan pembuluh darah di retina. Untuk anjing dan hewan lainnya akan terlihat hijau, karena mereka mempunyai lapisan sel di belakang retina. Maka untuk menghindari mata terlihat merah ketika kamu mengambil foto adalah menambah cahaya ruangan sehingga tidak perlu menggunakan flash kamera.

Nah sekarang sudah tahu khan? Betapa bernilai dan berguna mata kita, semoga setelah membaca artikel Fakta Tentang Mata Manusia, yang Kamu Belum Tahu!!! ini membuat kita lebih bersyukur dan menjaga menjaga kesehatan mata kita lebih baik lagi.


Note ; Artikel ini adalah hasil terjemahan dari artikel berbahasa Inggris, Unbelievable fact

source : http://exopedy.blogspot.co.id/2015/11/fakta-tentang-mata-manusia-yang-kamu.html

Some nice quotes from parents

















Hati-hati menyingkat salam dalam menulis pesan text


Islam, untuk kaum yang berpikir.


Berpikir Adalah Salah Satu Ajaran Islam Sesungguhnya Dan Untuk Manusia Yang Berpikir
QS. Ar-Rum [30] : 24
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ يُرِيكُمُ ٱلْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَيُحْىِۦ بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَآ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.

Kenapa manusia adalah mahluk sempurna dan mulia yang mana Allah memerintahkan Malaikat dan Iblis untuk tunduk kepada manusia?
Manusia sebagai mahluk sempurna karena mempunyai akal pikiran untuk bernalar dan akan menjadi mahluk mulia jika memanfaatkan akal pikiran untuk kebaikan serta mendapatkan atau mengolah data dari ilmu pengetahuan yang manusia peroleh!
Salah satu ajaran Islam sesunggunhya adalah memanfaatkan akal pikiran yang Allah anugerahi tersebut untuk berjilhad yaitu berjuang untuk mencapai kemuliaan yang Allah janjikan dengan cara berpikir dan berpikir tentang semua yang Allah sediakan serta Allah berikan.
Beberapa contoh ayat Al Qur'an yang mana Allah memerintahkan dan menantang kaum berpikir untuk berpikir tentang firman Allah:
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.
(QS. Shaad, 38: 29)
Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur'an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.
(QS. Al-Muddatstsir, 74: 54-56)
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.
(QS. Yuusuf, 12: 111)
Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku, yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari (Nuh). Dan sesungguhnya telah Kami jadikan kapal itu sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka alangkah dahsyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. Al Qamar 54: 13-15)
Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur'an), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 44)
Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?" Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali? (QS. Maryam, 19: 66-67).
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. Al-Baqarah, 2: 164)
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.
(QS. Yuunus, 10: 24)
Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. Ar-Ra'd, 13: 3-4)
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.
(QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.
(QS. An-Nahl, 16: 11-17)
Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
(QS. An-Nahl, 16: 68-69).
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.
(QS. Az-Zumar, 39: 42)
Banyak lagi firman Allah dalam Al Qur'an yang memerintahkan dan menantang seluruh umat manusia untuk berpikir serta berpikir tentang firman Allah.


"Berbahagialah Bagi Kaum Yang Mau Berpikir" 

Saya selalu teringat dengan quote dosen pembimbing tugas akhir saya yang terasa begitu mengena di hati dan telah menjadi sumber inspirasi saya untuk menjadi manusia yang mau berpikir dan berpikir. Manusia diberkahi Allah SWT dengan sarana berpikir yang demikian lengkap, namun sangat jarang yang menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Salah satu ajaran Islam sesungguhnya adalah tentu memanfaatkan akal pikiran yang Allah anugerahi tersebut untuk berjilhad yaitu berjuang untuk mencapai kemuliaan yang Allah janjikan dengan cara berpikir dan berpikir tentang semua yang Allah sediakan serta Allah berikan. Beberapa contoh ayat Al Qur’an yang mana Allah memerintahkan manusia untuk berpikir: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.Al-Baqarah:164) “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al Jaatsiyah 13) “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS.Ar Ra’d:4) “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum 21) Ayat-ayat di atas adalah salah satu ayat yang menggambarkan hanya sebagian kecil kebesaran-kebesaran Allah SWT. Di ujung ayat disebutkan bahwa itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT, tentu saja bagi kaum yang berpikir. Di sini tersirat bahwa memikirkan alam merupakan salah satu cara mengenal kebesaran Allah SWT. Manusia sebagai mahluk sempurna karena mempunyai akal pikiran untuk bernalar dan akan menjadi mahluk mulia jika memanfaatkan akal pikiran untuk kebaikan serta mendapatkan atau mengolah data dari ilmu pengetahuan yang manusia peroleh. Saya jadi teringat dengan salah satu quotes dari film Sands of Iwo Jima (1949) dimana seorang aktornya yang bernama Sergeant Stryker yang diperankan oleh John Wayne berkata: Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa Allah SWT memerintahkan kita sebagai manusia untuk mau berpikir tentang penciptaan-Nya. Namun semua itu telah Allah SWT tundukan untuk kita. Ini sebagai tanda bahwa manusia memiliki kemampuan (dari Allah) untuk menundukan apa yang ada di langit dan di bumi. Bukan orang pintar, bukan juga orang yang beruntung akan tetapi orang yang  BIJAK dan mau BERPIKIR yang dapat menikmati hidupnya. Hidup adalah berkah bagi kaum yang mau berpikir. Sudahkah Anda berpikir?

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/andriayanie/berbahagialah-bagi-kaum-yang-mau-berpikir_55298106f17e618b7bd623af

Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir? Tolong jelaskan ayat-ayat yang menyinggung tentang berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran?
Jawaban Global
Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran.
Akal dan pikiran merupakan karunia paling mulia yang diberikan Allah Swt kepada manusia.  Orang-orang yang tidak berpikir dan menolak untuk menghamba kepada Tuhan, dipandang sebagai mahkluk yang lebih buruk daripada binatang.[1] Akal dalam pandangan al-Quran dan riwayat, bukanlah semata-mata akal kalkulatif dan logika Aristotelian. Keduanya meski dapat menjadi media bagi akal namun tidak mencakup semuanya.
Karena itu, berulang kali al-Quran menyebutkan bahwa kebanyakan orang tidak berpikir, atau tidak menggunakan akalnya; sementara kita tahu bahwa kebanyakan manusia melakukan pekerjaannya dengan berhitung dan kalkulatif pada seluruh urusannya.
Memandang sama akal dan berpikir kalkulatif merupakan sebuah kesalahan epistemologis.  Bahkan melakukan komparasi dan memiliki kemampuan berhitung semata-mata merupakan salah satu media permukaan akal yang lebih banyak berurusan pada masalah angka-angka dan kuantitas.
Namun untuk mencerap realitas-realitas segala sesuatu, baik dan buruk, petunjuk dan kesesatan, kesempurnaan dan kebahagiaan, dan lain sebagainya diperlukan cahaya yang disebut sebagai sebuah anasir Ilahi yang terpendam dalam diri manusia. Anasir ini adalah akal dan fitrah manusia dalam artian sebenarnya. Sebagaimana sesuai dengan sabda Imam Ali As bahwa nabi-nabi diutus adalah untuk menyemai khazanah akal manusia.[2]
Dalam Islam, akal dan agama[3] adalah satu hakikat tunggal dan sesuai dengan sebagian riwayat, dimanapun akal berada maka agama akan selalu mendampingi,[4] tidak ada jarak yang terbentang antara iman dan kekurufan kecuali dengan kurangnya akal.[5]
Menggunakan pikiran dan akal dapat digunakan di jalan benar dan tepat apabila digunakan  dalam rangka ibadah dan penghambaan. Imam Shadiq As ditanya tentang apakah akal itu?” Imam Shadiq As menjawab, “Sesuatu yang dengannya Tuhan disembah dan surga diraih.”[6]
Berdasarkan hal ini, harap diperhatikan, berpikir dalam al-Quran tidak serta merta bermakna menggunakan akal yang dikenal secara terminologis.  Tatkala al-Quran menyeru untuk berpikir dan merenung dalam rangka penghambaan yang lebih serta terbebas dari belenggu kegelapan dan kesilaman jiwa, boleh jadi merupakan salah satu tanda berpikir dan berasionisasi.
Dalam pandangan ini, kedudukan akal dan pikiran sedemikian tinggi dan menjulang sehingga Allah Swt dalam al-Quran, tidak sekali pun menyuruh hamba-Nya untuk tidak berpikir atau menempuh jalan secara membabi buta.[7]
Menurut Allamah Thabathabai, Allah Swt dalam al-Quran menyeru manusia sebanyak lebih dari tiga ratus kali untuk menggunakan dan memberdayakan anugerah pemberian Tuhan ini,[8] dimana ayat-ayat ini dapat diklasifikasikan secara ringkas sebagaimana berikut:
  1. Mencela secara langsung manusia yang tidak mau berpikir:
Pada kebanyakan ayat al-Quran, Allah Swt menghukum manusia disebabkan karena mereka tidak berpikir. Dengan beberapa ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”, “afalâ tatafakkarun”, “afalâ yatadabbaruna al-Qur’ân”,[9] Allah Swt mengajak mereka untuk berpikir dan menggunakan akalnya.
  1. Ajakan untuk berpikir dalam pembahasan-pembahasan tauhid:
Allah Swt menggunakan ragam cara untuk mengajak manusia berpikir tentang keesaan Allah Swt; seperti pada ayat, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arasy dari apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:22)[10] dan “Katakanlah, “Mengapa kamu menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) mendatangkan manfaat bagimu? Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Maidah [5]:76) serta ayat-ayat yang menyinggung tentang kisah Nabi Ibrahim As dalam menyembah secara lahir matahari, bulan dan bintang-bintang, semua ini dibeberkan sehingga manusia-manusia jahil dapat tergugah pikirannya terkait dengan ketidakmampuan tuhan-tuhan palsu.[11] Dengan demikian, Allah Swt mengajak manusia untuk merenungkan dan memikirkan ucapan dan ajakan para nabi, “Apakah mereka tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila? Ia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata (yang bertugas mengingatkan umat manusia terhadap tugas-tugas mereka). “(Qs. Al-A’raf [7]:184); “Katakanlah, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Qs. Al-Saba [34]:46)
  1. Penciptaan langit-langit dan bumi serta aturan yang berkuasa atas seluruh makhluk:
Mencermati langit dan bumi serta keagungannya, demikian juga aturan yang berlaku pada unsur-unsur alam natural, merupakan salah satu jalan terbaik untuk memahami keagungan Peciptanya. Allah Swt dengan menyeru manusia untuk memperhatikan dan mencermati fenomena makhluk, sejatinya mengajak mereka untuk berpikir tentang Pencipta makhluk-makhluk tersebut. Misalnya pada ayat, “Dia-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu. Kemudian Dia (berkehendak) menciptakan langit, lalu Dia menjadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Baqarah [2]:29)[12]dan “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan.” (Qs. Al-Ghasiyah [88]:17)
  1. Penalaran terhadap adanya hari Kiamat:
Inti keberadaan hari Kiamat dan bahwa Allah Swt Mahakuasa untuk membangkitkan manusia setelah kematian mereka didasarkan argumen-argumen rasional. Pada kebanyakan ayat al-Quran, kemungkinan adanya hari Kiamat dinyatakan dalam bentuk ajakan untuk berpikir pada contoh-contoh yang serupa; seperti datangnya para wali manusia,[13]  hidupnya kembali bumi dan tumbuh-tumbuhan,[14] kisah hidupnya burung-burung sebuah jawaban atas permintaan Nabi Ibrahim AS,[15] kisah Ashabul Kahfi,[16]kisah Nabi Uzair[17] dan masih banyak contoh lainnya.
  1. Isyarat terhadap sifat-sifat Allah Swt:
Pada kebanyakan ayat al-Quran dengan menyinggung sebagian sifat Allah Swt, manusia diajak untuk berpikir tentang Allah Swt dan tentang amalan perbuatan mereka. Sifat-sifat seperti, Qadir, Malik, Sami’dan Bashir dengan baik menunjukkan atas isyarat ini. Seperti, “Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” (Qs. Al-Taubah [9]:78)[18] dan ayat-ayat dimana Allah Swt memperkenalkan dirinya sebagai saksi atas amalan-amalan kita, seperti, “Katakanlah, “Hai ahli kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah? Padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran [3]:98)[19] jelas bahwa ayat-ayat ini tengah membahas tentang prinsip-prinsip akidah; seperti tauhid, kenabian, ma’ad dan keadilan Ilahi. Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat rasional yang termaktub dalam al-Quran. Karena prinsip-prinsip akidah bertitik tolak dari pembahasan-pembahasan rasional yang harus ditetapkan dengan berpikir dan menggunakal akal. Taklid dalam hal ini tidak dibenarkan.
  1. Menjelaskan ragam kisah dan azab yang diturunkan akibat dosa-dosa kaum-kaum terdahulu:
Harap diperhatikan menjelaskan kisah-kisah kaum terdahulu yang disampaikan dalam al-Quran, bukan dimaksudkan untuk sekedar menjelaskan satu kisah atau kisah yang membuat manusia larut di dalamnya, melainkan sebuah pelajaran berharga untuk umat selanjutnya. Atau dengan menelaah nasib dan peristiwa yang menimpa mereka, manusia seyogyanya berpikir tentang akhir dan pengaruh amalan perbuatan mereka sehingga dapat menuntun manusia untuk tidak melakukan perbuatan yang sama; seperti kisah Nabi Yusuf,[20]  kisah yang sarat dengan pelajaran wanita-wanita para nabi,[21] azab-azab yang turun untuk kaum Ad, Tsamud dan Luth.[22]
  1. Menjelaskan mukjizat-mukjizat para nabi:
Jalan terbaik untuk menetapkan kebenaran seorang nabi dan klaim risalah yang dibawanya dari sisi Allah Swt adalah mukjizat. Mukjizat hanya dapat menetapkan klaim kenabian seorang nabi tatkala hal itu berada di luar kemampuan dan kekuatan manusia; karena itu demonstrasi mukjizat merupakan sebuah ajakan nyata kepada manusia untuk berpikir sehingga manusia dengan berpikir terhadap ketidakmampuannya dan kekuatan mukjizat ia beriman kepada ucapan-ucapan para nabi; seperti mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, al-Quran yang akan tetap abadi selamanya dan manusia dengan berpikir dan ber-tafakkur pada ayat-ayatnya dapat meraih iman pada kebenaran nabi pamungkas,[23] dan mukjizat-mukjizat agung yang diriwayatkan dari para nabi ulul azmi.[24]
  1. Tantangan dalam al-Quran:
Salah satu contoh ajakan dan seruan al-Quran untuk berpikir adalah tantangan kepada orang-orang kafir untuk menghadirkan seperti ayat-ayat al-Quran. Tatkala manusia mencari kebenaran, mereka menjumpai ketidakmampuan orang-orang kafir sepanjang tahun ini, mereka beriman kepada kebenaran al-Quran dan pembawa pesannya; seperti ayat, “Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:23)[25]
  1. Mencela taklid buta:
Pada kebanyakan ayat al-Quran, orang-orang kafir untuk mencari pembenaran atas tindakannya menyembah berhala, tidak mau berpikir dan sebagai gantinya menjadikan taklid buta dari datuk-datuknya sebagai pembenar atas perbuatan-perbuatan mereka. Allah Swt mencela mereka karena tidak mau memanfaatkan kemampuan akal dan menyeru mereka untuk berpikir dan merenung dalam masalah-masalah akidah; misalnya pada ayat,  “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah”, mereka menjawab, “(Tidak)! Tetapi, kami hanya mengikuti apa yang telah kami temukan dari (perbuatan-perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) meskipun nenek moyang mereka itu tidak memahami suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs. Al-Baqarah [2]:170)[26] sebagaimana Allah Swt mencela Ahlulkitab disebabkan akidah-akidah batil dan taklid buta mereka, “Katakanlah, “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Qs. Al-Maidah [5]:77)
  1. Meminta argumentasi di hadapan ucapan-ucapan tak berguna:
Tatkala Allah Swt di hadapan ucapan-ucapan tak berguna dan tidak benar sebagian manusia, menuntut dalil dan burhan, dan dengan lugas meminta seluruh manusia untuk tidak mengikut sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentangnya;[27] artinya Allah Swt menginginkan seluruh manusia menjadikan akalnya sebagai panglima untuk memutuskan di hadapan pelbagai khurafat dan hal-hal nonsense dan meminta argumentasi dari mereka; seperti, “Dan mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan pernah masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanyalah) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:111)[28] Demikian juga para nabi meminta argumentasi di hadapan klaim-klaim kosong seperti, “Apakah engkau tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku adalah Dzat yang dapat menghidupkan dan mematikan.” Orang itu berkata, “Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat.” Lalu, orang yang kafir itu terdiam (seribu bahasa); dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Qs. Al-Baqarah [2]:258)
  1. Menggunakan penyerupaan dan permisalan dalam memotivasi dan mencela manusia:
 Allah Swt pada kebanyakan ayat mengajak manusia untuk berpikir dengan menggunakan penyerupaan sehingga ia mau merenung atas apa perbuatanya; seperti, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Qs. Al-Ankabut [29]:41)[29]
  1. Mengingatkan pelbagai nikmat:
Allah Swt dalam al-Quran dengan mengingatkan pelbagai nikmat, meminta manusia untuk menjauhi sikap angkuh dan memuja diri serta tidak melupakan kedudukan penghambaan dan ibadah. Metode mengajak berpikir seperti ini kebanyakan digunakan untuk kaum Bani Israel; seperti, “Wahai Bani Isra’il, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwa Aku telah mengutamakan kamu atas segala umat.” (Qs. Al-Baqarah [2]:47 & 122) dan Tanyakan kepada Bani Isra’il, “Berapa banyakkah tanda-tanda (kebenaran) nyata yang telah Kami berikan kepada mereka.” Dan barang siapa yang merubah nikmat Allah setelah nikmat itu datang kepadanya, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya” &  Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu merenungkan. (Qs. Al-Baqarah [2]:211 & 242) dan pada hari kiamat akan menjadi hari tatkala seluruh anugerah ini akan ditanya.”[30]
  1. Membandingkan antara manusia dengan memperhatikan pikiran dan perbuatannya:
Tatkala seorang berakal melakukan perbandingan antara dua hal, pada hakikatnya ingin menjelaskan tipologi dan pengaruh positif dan negative masing-masing dari dua hal yang dibandingkan. Membandingkan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir juga merupakan seruan nyata Allah Swt kepada manusia untuk berpikir dan berenung, sehingga manusia yang berpikir dapat menimbang akibat orang-orang beriman dan orang-orang kafir, kemudian menemukan jalannya; seperti ayat,“Sesungguhnya telah ada tanda (dan pelajaran) bagimu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Qs. Ali Imran [3]:13)[31] 
  1. Menuntaskan hujjah:
Tatkala mengirimkan pelbagai mukjizat, ayat-ayat, dan tanda-tandanya yang beragam, Tuhan telah menuntaskan hujjah bagi para hamba-Nya dan memberikan kepada mereka janji-janji pahala dan azab, pada hakikatnya mereka diseur untuk berpikir dan berenung sehingga manusia mau menimbang segala yang dilakukan dan dikerjakannya. Para nabi juga tidak mendatangi para umatnya kecuali menuntaskan hujjat dengan pelbagai dalil, argument dan tanda-tanda, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata” (Qs. Hud [11]:96) tatkala mereka menolak untuk menjadi hamba, tidak akan diampuni, “Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) setelah ia pergi, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim & Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) setelah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran yang nyata, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Al-Baqarah [2]:92 & 209)[32]seluruh hujjah tidak terkhusus untuk para pendosa saja, melainkan mencakup seluruh nabi, “Dan sebagaimana (Kami telah menurunkan kitab kepada para nabi sebelum kamu), Kami (juga) telah menurunkan Al-Qur’an itu (kepadamu) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak memiliki pelindung dan penolak pun dari (siksa) Allah.” (Qs. Al-Ra’d [13]:37)[33]
Pada akhirnya, al-Quran mendeskripsikan kondisi orang-orang yang enggan berpikir dan tidak mau mendengarkan ucapan-ucapan para nabi dan imam, “Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Al-Mulk [67]:10)[34] dan karena mereka memiliki akal dan mereka sendiri dapat memberikan penilaian, maka Allah Swt, dengan menyerahkan catatan amalan akan meminta mereka menilai sendiri atas apa saja yang telah mereka kerjakan.[35] [iQuest]
 

[1].  Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. (Qs. Al-Anfal [8]:22)
[2].  Nahj al-Balâgha, (Subhi Shaleh), hal. 43, Intisyarat Hijrat, Qum, 1414 H.
[3]. Akal dan Agama, 4910; Hubungan Akal dan Agama, 12105.  
[4]. Kulaini, al-Kâfi, jil, 1, hal. 10, Diedit oleh Ghaffari dan Akhundi, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.  
[5]Ibid, hal. 28.
[6]Ibid, hal. 11.  
[7]. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat jawaban 26661 yang terdapat pada site ini.   
[8]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, jil. 3, hal. 57, Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1417 H.  
[9].  “Apakah kalian tidak berpikir” redaksi kalimat ini dan redaksi kalimat yang serupa digunakan sebanyak 20 kali dalam al-Quran.  
[10]. Dan ayat-ayat serupa pada surah al-Mukminun “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” [23]:91)  
[11]. “Ketika malam telah menjadi gelap, ia melihat sebuah bintang (seraya) berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, ia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhan-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Tatkala matahari itu telah terbenam, ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Qs. Al-An’am [6]:76-78)  
[12]. Dan ayat-ayat lainnya seperti (Qs. Yunus [10]:5); (Qs. Al-Mulk [67]:3 & 4); (Qs. Al-Baqarah [2]:3 & 4); (Qs. Al-Mukminun [23]:69 & 80) dan seterusnya; Allah Swt pada ayat 190 surah Ali Imran menyebut orang-orang yang memikirkan tanda-tanda Ilahi sebagai “ulul albab” yaitu orang-orang yang berpikir.
[13].  “Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (Qs. Al-Kahf [18]:37); “Hai manusia, jika kamu ragu tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sebagiannya berbentuk dan sebagian yang lain tidak berbentuk, agar Kami jelaskan kepadamu (bahwa Kami Maha Kuasa atas segala sesuatu), dan Kami tetapkan dalam rahim (ibu) janin yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, supaya (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah ia ketahui. Dan (dari sisi lain) kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, bumi itu hidup dan tumbuh subur dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Qs. Al-Hajj [22]:5)  
[14]“Dan Dia-lah yang mengirim angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati (pada hari kiamat), mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Qs. Al-A’rafa [7]:57); (Qs. Al-Rum [30]:50); (Qs. Fathir [35]:9) dan lain sebagainya.  
[15]. (Qs. Al-Baqarah [2]:260)
[16]. (Qs. Al-Kahf [18]:9-25)  
[17]. (Qs. Al-Baqarah [2]:259)
[18]. (Qs. Al-Taubah [9]:78); (Qs. Al-Baqarah [2]:96 & 107)   
[19]. (Qs. Ali Imran [3]:98); (Qs. Al-Nisa [4]:33 & 166)  
[20]. Surah Yusuf mengulas kisah ini secara rinci.  
[21].  (Qs. Al-Tahrim [66]:4, 10 dan 11)  
[22]. Seperti ayat-ayat, (Qs. Al-Fushilat [41]:13-17) dan (Qs. Al-A’raf [7]:80-84)
[23]. Mukjizat Rasulullah SAW lainnya pada (Qs. Al-Isra [17]:1 & 88); (Qs. Al-Qamar []:1)
[24]. Mukjizat-mukjizat Nabi Nuh As pada (Qs. Al-Ankabut [29]:15); Mukjizat-mukjizat Nabi Ibrahim As pada (Qs. Al-Anbiya [21]:69); Mukjizat-mukjizat Nabi Musa As pada (Qs. Thaha [20]:17-20) dan (Qs. Al-Qashash [28]:32) dan (Qs. Al-Baqarah [2]:50); Mukjizat-mukjizat Nabi Isa As pada (Qs. Al-Maidah [5]:110)  
[25]. Dan ayat-ayat lainya seperti (Qs. Yunus [10]:38) dan (Qs. Hud [11]:13)
[26]. Dan seperti ayat-ayat (Qs. Al-Maidah [5]:53 & 54); (Qs. Al-Syua’ara [26]:74); (Qs. Al-Zukhruf [43]:23)  
[27]. (Qs. Al-Isra [17]:36)   
[28]. Ketika Allah Swt berfirman kepada Rasul-Nya, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Qs. Al-An’am [6]:49)
[29]. Dan ayat-ayat lainnya seperti (Qs. Al-Jumu’ah []:5); (Qs. Al-Baqarah [2]:26, 171, 261, dan 265); (Qs. Ali Imran [3]:118) dan (Qs. Al-A’raf [7]:176)  
[30].   “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanyai tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (Qs. Al-Takatsur [102]:8)
[31].  (Qs. Al-Maidah [5]:50); (Qs. Al-An’am [6]:50); (Qs. Hud [11]:24); demikian juga perbandingan orang-orang mujahid dan orang-orang yang tidak berjihad pada surah al-Nisa:95)
[32].  (Qs. Al-Nisa [4]:153); (Qs. Al-Maidah [5]:32)  
[33].   Demikian juga “(Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan seluruh ayat (bukti) kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak (berhak) mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah [2]:145)
[34].  Jelas bahwa yang dimaksud dengan mendengarkan di sini bukanlah taklid buta, melainkan mendengarkan berdasarkan pemikiran dan perenungan.
[35].  Menyinggung ayat “Adapun orang-orang yang menerima kitab (amal)nya dengan tangan kanan, maka dia berkata (lantaran bahagia dan bangga), “Ambillah, bacalah kitabku (ini) & Adapun orang yang menerima kitab (amal)nya dengan tangan kiri, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya kitabku ini tidak diberikan kepadaku.” (Qs. Al-Haqqa [69]: 19 & 25 ).


Dalil Berfikir

Memberantas Kejumudan
Islam membebaskan manusia dari belenggu kejumudan dan kendali taklid buta yang menjijikkan. Islam mendidiknya untuk berpikir dan berkehendak secara bebas supaya akalnya sempurna, berpikir dengan benar, dan memiliki kepribadian dan kemanusiaan yang lengkap. Kesempurnaan akal, kebenaran berpikir, dan kemerdekaan berkehendak merupakan dasar kesahihan sebuah akidah, integritas keberagamaan, dan keluhuran moral. Dengan akal yang sempurna, berpikir secara benar dan berkehendak secara bebas seseorang dapat membedakan mana kebenaran yang harus diikuti dan mana kebatilan yang harus dihindari. Rasulullah Saw menjelaskan hal ini dengan sabdanya, “Seseorang tidak akan memperoleh sesuatu yang sebaik akal. Akal membimbing pemiliknya kepada petunjuk dan menghindarkannya dari kesesetan.” (Muttafaq ‘alaih).
Keimanan seseorang tidak akan sempurna dan keberagamaannya tidak akan benar hingga akalnya sempurna lebih dulu. Islam sangat memperhatikan pembinaan pilar ini. Hal itu bisa ditinjau dari beberapa sudut pandang:

Pertama, Dalil adalah Landasan Iman
Islam menjadikan dalil sebagai asas bagi iman yang tulus dan akidah yang benar. Islam menjelaskan bahwa keyakinan atau amal yang tidak didasarkan kepada dalil yang benar bakal tertolak. Islam juga memberi peringatan keras kepada orang-orang yang berbantah-bantahan tentang Allah Swt dan ayat-ayat-Nya tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa dalil dari wahyu yang memberi penerangan. 
Allah Swt berfirman:
“Dan barang siapa menyembah tuhan lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung.” (QS. al-Mu’minun [23]: 117). 
“Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan sambil memalingkan lambungnya (dengan congkak) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Dia mendapat kehinaan di dunia dan pada hari Kiamat Kami berikan kepadanya rasa azab neraka yang membakar.” (QS. al-Hajj [22]: 8-9). 
Perlu dicatat bahwa frasa burhânukum (bukti kebenaranmu) disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak empat kali.

Kedua, Kesesatan Para Pemimpin 
Islam telah mengungkap kesesatan para pemimpin agama yang melanggar perjanjian yang mereka buat. Mereka membuat kebohongan terhadap Allah dan menjualbelikan agama dan keyakinan. Mereka memproklamirkan diri berhak membuat syariat dan menentukan halal haram sesuai selera mereka demi mendapatkan keuntungan duniawi dan memuaskan hawa nafsu dengan mengelabui manusia tentang agama mereka. 
Allah Swt berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi kitab itu) kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan.” (QS. Alu ‘Imran [3]: 187).
“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.” (QS. al-Baqarah [2]: 79).
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” (QS. an-Nahl [16]: 116).
“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. al-Baqarah [2]: 42).

Ketiga: Menyeru kepada Kebenaran
Islam menyeru seluruh manusia kepada kalimat kebenaran yang menjadi esensi kebaikan dan direspons oleh setiap orang yang berhati bersih dan berpikiran rasional. Kalimat yang diserukan oleh Islam ini merupakan titik persamaan semua risalah para rasul dan kitab suci yang diturunkan. Allah Swt berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Muslim.’” (QS. Alu ‘Imran [3]: 64).

Keempat, Memperhatikan Langit dan Bumi
Islam memerintahkan setiap orang yang berakal untuk memperhatikan dan merenungkan langit dan bumi beserta semua isinya yang menjadi bukti nyata akan keesaan Allah dalam ulûhiyah dan rubûbiyah-Nya. Manusia harus memerhatikan langit yang membentang di atasnya, bagaimana ia dibangun sehingga sedemikian kokoh dan bagaimana ia dihias sehingga sedemikian indah? Dia juga harus memperhatikan bumi, bagaimana ia dihamparkan, dipancangi gunung-gemunung, dan ditumbuhi tanaman-tanaman yang indah? Mahakarya ini diciptakan semata-mata untuk menjadi peringatan bagi orang yang sadar hatinya dan mengerti.
Allah Swt berfirman, “Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gemunung bagaimana ditegakkan? Dan bumi bagaimana dihamparkan?” (QS. al-Ghasyiyah [88]: 17-20).
Kita harus menyadari bahwa penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan muatan yang bermanfaat bagi manusia, air yang diturunkan dari langit untuk menghidupkan bumi setelah kekeringan, bermacam-macam binatang yang ditebarkan di bumi, perkisaran angin, dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang mengerti yang mengikuti jalan cahaya dan pengetahuan. 
Apabila manusia memperhatikan dirinya dan mengetahui dari apa asalnya, bahwa dirinya diciptakan dari setetes air hina yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada; apabila manusia mengamati bumi yang menjadi sumber kehidupan, dan memperhatikan makanannya, niscaya dia menemukan bahwa Allah Saw berkuasa mencurahkan air yang melimpah dari langit, membelah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu di sana Dia menumbuhkan biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun yang rindang, buah-buahan, dan rerumputan. Semua itu untuk kesenangan manusia dan hewan-hewan ternak. 
Dengan kontemplasi yang dibarengi perenungan dan pertimbangan akal, manusia akan semakin berilmu dan berpengetahuan. Orang yang meningkat ilmunya, meningkat pula imannya. Orang yang meningkat imannya niscaya akan semakin maju, bermoral, dan berbudaya. 
Allah Swt telah menyeru kita untuk memikirkan alam semesta yang luas ini dan memperhatikan sumber daya yang dikandungnya. Dia meminta kita untuk mempelajari berbagai rahasia dan berbagai faktor kehidupan yang ada di sana. Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk).” (QS. al-Ankabut [29]: 20). Perlu dicatat di sini bahwa firman Allah “Berjalanlah di bumi” disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak empat kali. Allah Swt berfirman, “Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin.” (QS. adz-Dzuriyat [51]: 20).

Kelima, Seruan untuk Menggugah Pikiran
Islam sering memberikan kata-kata motivasi yang menggugah pikiran, mengarahkan pemahaman, dan membangkitkan kepekaan indera dan emosi. Sebagai contoh adalah ketika mengakhiri penjelasan ayat-ayat tentang alam dan hukum, semisal firman Allah Swt:
“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.” (QS. ar-Rum [30]: 24).
“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 3).
“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Thaha [20]: 54). 
Masih dalam surah yang sama, Thaha, juga terdapat ungkapan serupa, yaitu pada ayat 128, “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”
“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang mendengar.” (QS. Yunus [10]: 67).
“(Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. al-Baqarah [2]: 221).
“Hanya orang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 19).
Ûlu al-albâb, seperti yang terdapat dalam surah ar-Ra‘d di atas, adalah orang-orang yang mempunyai akal, pemahaman, kesadaran, dan pengertian. Mereka disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak enam belas kali. 

Keenam, Tinjuan yang Kritis dan Perseptif
Islam menyeru seluruh manusia untuk melihat semua pernyataan yang mereka dengar dengan kritis, sadar, dan perseptif, agar bisa menilai segala sesuatu secara logis dan benar, lalu mengikuti perkataan yang menunjukkan kepada kebenaran dan membimbing kepada kebaikan. Orang-orang yang mendengarkan perkataan seperti itu bakal melangkah di atas jalan petunjuk. Mengapa tidak? Mereka diberi petunjuk oleh Allah Saw karena memiliki akal sehat. Allah Swt berfirman, “... sebab itu sampaikanlah kabar gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang memiliki akal sehat.” (QS. az-Zumar [39]: 17-18).

Ketujuh, Mencela Orang-orang Lalai
Islam mencela orang-orang yang lalai dan malas dan memperingatkan kelalaian dan keberpalingan mereka dari bukti-bukti ayat kauniyah (alam semesta) yang mereka saksikan. Sejatinya mereka melihat bukti-bukti itu setiap saat, namun mereka melalaikan dan berpaling darinya. Ayat-ayat kauniyah memperlihatkan bukti-bukti yang nyata kepada mereka setiap saat, namun mereka seperti kata pepatah, “Anjing bergonggong kafilah berlalu.” Mereka berpaling dari semua tanda-tanda kebesaran Allah. Tidakkah mereka berjalan di muka bumi yang terbentang luas, lalu menggunakan hati untuk memahami dan telinga untuk mendengar? 
Ya, sesungguhnya bukanlah mata yang buta, melainkan hati di dalam dada yang merupakan sumber perasaan dan sensasi. Mereka lalai dan berpaling dari bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta. Mereka punya hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami. Mereka punya mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat. Mereka punya telinga, tapi tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka benar-benar seperti binatang, bahkan lebih sesat dari binatang karena kelalaian mereka. Allah Swt, “Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.” (QS. Yusuf [12]: 105). 

Kedelapan, Menghadapi Orang-orang yang Terkungkung Tradisi
Islam mencela orang-orang yang terkungkung tradisi dan berpaling dari kebenaran yang disampaikan oleh para nabi dan utusan Allah. Mereka bersikeras mengikuti tradisi yang mereka dapati dari nenek moyang dan melakukan kemungkaran dengan mengatasnamakan agama. Mereka berbuat seperti itu karena fanatik terhadap status quo dan taklid buta yang bertentangan dengan logika dan akal sehat. Allah Swt berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.’ Mereka menjawab, ‘Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).’ Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS. al-Maidah [5]: 104). 
Apabila dikatakan kepada orang-orang semacam itu, “Ikutilah jalan petunjuk yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami,” walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.
Ketika berbuat keburukan, mereka berulang kali mengatakan bahwa nenek moyang mereka berbuat seperti itu dan mereka diperintahkan untuk melakukannya. Seharusnya mereka tahu bahwa Allah Swt tidak pernah memerintahkan keburukan. Mereka mengatakan sesuatu kepada Allah yang tidak mereka ketahui. 
Allah Swt menjelaskan kepada kita akibat yang akan menimpa manusia lantaran bertaklid buta. Allah Swt berfirman:
“Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.’” (QS. al-Ahzab [33]: 66-68).

Analisis atas Fenomena Taklid Buta
Taklid buta membawa petaka yang sangat buruk bagi individu dan masyarakat karena akan mematikan talenta berpikir, kreativitas, dan inovasi. Taklid buta merupakan batu sandungan bagi pola pikir yang sehat dan membekukan potensi berpikir dan inovasi seseorang. Dengan taklid buta, potensi seseorang menjadi lamban, stagnan, dan tidak berkembang.
Taklid buta menjadikan seseorang tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang benar dan yang salah. Dia tidak akan bisa membedakan antara tradisi kebaikan dan tradisi keburukan. Tidak hanya itu, dia juga mendorong keluarganya untuk berpaling dari kebenaran dan memusuhi orang-orang yang memperjuangkannya. Dia menyeru mereka untuk merintangi berbagai upaya perbaikan dan mempertahankan keyakinan status quo yang diwariskan dari nenek moyang dengan menggunakan fanatisme golongan. 
Keyakinan tersebut didasarkan kepada peninggalan dan tradisi leluhur meski tidak dipahami maknanya. Bahkan, para pewaris menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral sehingga akal sehat yang dapat menentukan keabsahan dan tidaknya pun dikesampingkan.
Taklid buta mendorong mereka kepada fanatisme golongan guna mempertahankan ajaran yang diwariskan. Semua ajaran baru yang bertentangan dengannya atau mengurangi kesakralannya ditentang habis-habisan, meskipun ajaran baru itu menawarkan perbaikan mendasar dan substansial bagi kebaikan manusia.
Cukup banyak ayat al-Qur’an yang menerangkan fenomena ini, semisal firman Allah Swt tentang penentangan umat-umat terdahulu terhadap dakwah para rasul Allah yang diutus kepada mereka, 
“Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.’ (Rasul itu) berkata, ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih baik daripada apa yang kamu peroleh dari (agama) yang dianut nenek moyangmu?’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami mengingkari (agama) yang kamu diperintahkan untuk menyampaikannya.’” (QS. az-Zukhruf [43]: 23-24). 
Sebagaimana umat-umat yang terdahulu, Suku Quraisy juga menentang seruan Nabi Muhammad Saw. Mereka merasa heran dengan kehadiran pemberi peringatan dari kalangan mereka sendiri. Mereka menuduh Muhammad Saw berbohong dan menggunakan sihir, bahkan mengejeknya secara berlebihan demi membela tuhan-tuhan mereka yang tidak bisa mendatangkan kemudaratan ataupun manfaat. Semua seruan menuju jalan petunjuk mereka tolak mentah-mentah.
Konsekuensi Taklid Buta
Taklid buta dan keyakinan terhadap warisan yang disakralkan—seperti sudah disinggung sebelumnya—sangat membahayakan individu dan masyarakat. Coba perhatikan! Orang-orang Quraisy itu sangat mengenal Rasulullah Saw, bahkan sangat mengenalnya luar dalam. Mereka mengetahui betul kejujuran dan sifat amanahnya, termasuk perilaku dan pergaulannya yang tepuji. Namun demikian, fanatisme golongan yang didasarkan kepada taklid buta dan sakralisasi tradisi nenek moyang menjadikan mereka meresa asing terhadap dakwah Rasulullah Saw, kemudian mengingkari dan mengejeknya. 
Fakta di atas semakin mengukuhkan bahwa ajaran dan keyakinan yang didasarkan kepada warisan dan taklid buta, tanpa pengkajian atau penelitian, pada akhirnya bakal disakralkan oleh para pewarisnya. Karena itu mereka tidak mau memikirkan secara sadar dan benar tentang dampak buruk dan kebatilannya. Selanjutnya mereka dihinggapi fanatisme golongan yang membabi buta untuk mempertahankan ajaran tersebut dari segala seruan yang bertentangan dengannya atau mengganggu kesakralannya.
Islam mengajari kita untuk bersikap toleran, tidak fanatik, dan menerima orang lain, karena semua orang sama-sama memiliki hak asasi dalam kehidupan. Islam juga mengajari kita untuk menghargai pendapat orang lain dan berdialog dengan cara yang elok. Islam mempercayai adanya pluralitas pemikiran dan menolak pendapat tunggal. Pada saat yang sama, Islam menyerukan untuk bersikap saling memberi dan menerima, dan melakukan dialog antar budaya. Sebab, Allah Swt menciptakan kita dengan tujuan saling mengenal dan saling memahami satu sama lain guna menciptakan realitas yang lebih baik bagi seluruh umat manusia. Hal itu dapat dicapai dengan cara bertukar ide dan pengalaman, bukan dengan konfrontasi dan konflik. 
Bangsa, kelompok, atau masyarakat yang berpegang kepada keyakinan dan ajaran yang diwariskan, yang tidak bersandar kepada pandangan dan pemikiran yang benar, akan menjadi bangsa yang jumud dan terbelakang. Sebab, pegangan mereka tidak didasarkan kepada fondasi yang benar. Mereka hanya bersandar kepada tradisi yang didasarkan kepada taklid buta dan sakralisasi warisan leluhur tanpa menggunakan akal dan pikiran sedikit pun.
Menghilangkan Kekuasaan yang Dipertuhankan
Dengan pilar penting ini, yang titik tolaknya adalah membebaskan manusia dari belenggu kejumudan dan taklid buta serta mendidiknya untuk berpikir dan berkehendak secara bebas, Islam yang hanif berupaya menghilangkan kekuasaan yang dipertuhankan oleh para pemimpin yang sesat dan menyesatkan. Islam mencabut selendang kesucian yang mereka sandang, karena dengan selendang itu mereka mengelabui orang banyak bahwa kemuliaan mereka tidak bisa dikritik atau diganggu gugat. Islam memberlakukan hukum pertanggungjawaban dan balasan kepada mereka seperti yang diberlakukan kepada orang lain.
Demikianlah, Islam telah menjelaskan bahwa hak untuk disembah dan menetapkan hukum hanyalah milik Allah yang Esa. Islam menyeru para tahanan tradisi dan taklid buta untuk membebaskan diri mereka dari belenggu yang memasung akal dan pemahaman dan kotoran yang menutupi telinga dan mata mereka. Islam menetapkan dengan jelas bahwa manusia mempunyai hak untuk berpikir, berkeyakinan, berpendapat, dan berkehendak secara bebas. Kapan pun dan di mana pun, Islam membuka jalan selebar-lebarnya bagi kebebasan berpikir dan berkehendak. Islam sudah mempersiapkan kedudukan yang layak bagi kemanusiaan dan kemuliaannya.
Allah Swt juga telah menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk menjadi hamba penurut seperti kerbau yang dicocok, dan pada saat yang sama Dia tidak memberikan hak kepada siapa pun untuk menguasai akal, pikiran dan kehendak orang lain. Allah menciptakan manusia dalam keadaan merdeka untuk mengendalikan dirinya sendiri dan hanya menjadi hamba bagi Tuhan yang Esa. Allah menjadikannya berpikir dengan akalnya, mencari panduan dengan talenta dan potensi yang diberikan kepadanya, dan berbuat sesuai dengan pilihannya. Allah memandunya dengan cahaya ilmu dalam mengarungi perjalanan kehidupan, membuat keputusan, dan menunaikan pekerjaannya.
Allah Swt memberitahukan dan mengajarkan kepada manusia bahwa dia hanya diperkenankan menyembah kepada Sang Pencipta yang Mahaagung. Keyakinan dan perilakunya harus mengikuti agama yang mempunyai dalil dan bukti. 
Pada bagian akhir paparan saya tentang salah satu pilar utama manhaj Islam dalam membebaskan akal dan pikiran ini, saya tidak lupa ingin mengatakan dua substansi penting yang terkadang salah dipahami oleh sebagian orang.
Substansi Pertama 
Taklid yang saya maksudkan di sini adalah taklid yang dikecam dan sangat ditentang oleh Islam, seperti yang telah saya jelaskan dampak buruknya bagi individu dan masyarakat. Di penghujung tulisan ini saya ingin menekankan bahwa taklid yang dimaksud di sini adalah taklid buta yang berangkat dari kejumudan dan mempertahankan tradisi lama yang diwariskan tanpa sedikit pun memikirkannya. Tradisi tersebut diikuti secara membabi buta. Semua seruan pembaruan yang tidak sejalan dengannya ditentang habis-habisan, meskipun seruan baru itu membawa kebaikan bagi manusia atau lebih lurus dan benar jalannya.
Taklid yang saya maksud di sini adalah taklid yang membuat seseorang tidak dapat membedakan antara tradisi kebaikan dan tradisi keburukan. Taklid ini menjadikannya tidak dapat membedakan antara mengikuti kebenaran dari para pemimpin yang mendapat petunjuk, ulama yang saleh, para pemikir yang tercerahkan, dan para pemimpin yang reformis dengan mengikuti kebatilan para pemimpin yang sesat, menyesatkan, dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, atau kebatilan dari orang-orang yang egois dan mementingkan diri sendiri.
Itulah taklid yang dikecam dan sangat ditentang oleh Islam. Adapun taklid kepada ahli kebaikan dan kebenaran, yaitu para pemimpin yang mendapatkan petunjuk, para ulama dan intelektual yang moderat, mantap ilmu pengetahuannya, perilaku saleh sebagai karakternya, yang mendasarkan pemikiran, ilmu, dan ajaran mereka kepada petunjuk Allah Yang Mahaagung dan Sunah Nabi Saw yang suci, yang istikamah di atas jalan terbaik dan dalil yang terang benderang, maka taklid seperti itu tidak termasuk taklid buta. Mengikuti mereka semata karena teladan mereka menyadarkan dan mencerahkan. Sebab, apabila kita tidak tahu, tentu kita harus mengikuti para ulama. Allah Swt berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16]: 43).
Perlu dikatakan di sini bahwa frasa ahl al-dzikr (orang-orang yang mempunyai pengetahuan) disebutkan dalam al-Quran dua kali, sedangkan kata al-dzikr sendiri diulang 19 kali. 
Al-‘Irbad bin Sariyah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan Sunahku dan Sunah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk.” (Muttafaq ‘alaih).
Berpegang teguh kepada Kitab Allah dan Sunah Rasulullah Saw merupakan cara melindungi diri dari pendapat dan hawa nafsu yang menyesatkan, mencari selamat dari keburukan perpecahan dan pertentangan, dan keluar dari kegelapan kebodohan. Kemudian bertanyalah kepada ulama yang mantap ilmunya, menjaga amanah ilmunya, dan moderat dalam berpikirnya apabila merasa diri kita tidak tahu.
Substansi Kedua
Kebebasan berpikir yang dijadikan Islam sebagai panduan berpikir yang benar dan mercusuar bagi akal untuk menemukan ajaran yang benar dan baik adalah kebebasan yang melepaskan akal dan pikiran kita dari belenggu kejumudan dan penindasan intelektual. Kebebasan tersebut membebaskan akal dari kendali taklid buta dan mengungkap ajaran kebenaran yang disembunyikannya.
Kebebasan yang saya maksud di sini adalah kebebasan yang diserukan oleh Islam, yaitu bahwa manusia senantiasa merdeka selama ia tidak mengganggu orang lain. Perlu diperhatikan bahwa kepemimpinan harus diarahkan untuk membina, memperbaiki, dan mendidik, bukan untuk menghancurkan dan menyesatkan. Itulah kepemimpinan yang komponen ilmiahnya bersumber dari petunjuk dan ajaran Islam, kematangan akal, dan kelurusan berpikir. Ia didasarkan kepada premis dan logika yang benar, dalil dan bukti, serta ditunjang dengan investigasi yang cermat dalam memahami teks-teks Kitab Allah dan Sunah Nabi Saw. Keduanya dijadikan dalil sesuai dengan prinsip-prinsip berpikir. 
Orang-orang yang berpengaruh dan berkuasa harus memahami betul al-Qur’an dan Sunah, berangkat dari pemahamannya terhadap dalil-dalil khusus, tema-tema bahasa Arab, dan budaya Islam secara umum. Sebab, apabila sebuah urusan diserahkan kepada orang-orang yang memahami dan menarik kesimpulan sesuai dengan selera dan keinginannya, niscaya keseimbangan salah dan benar akan terganggu, berbagai hakikat akan tersembunyi di tengah-tengah hawa nafsu, karena akal dan pemahaman setiap orang berbeda-beda dan mereka dikendalikan oleh hawa nafsu dan kecenderungan. Sementara itu, orang–orang yang idealis dan tetap dalam keidealisannya jarang sekali, di mana pun dan kapan pun. 
Inilah kebebasan berpikir yang dikumandangkan oleh Islam. Islam menjadikannya sebagai mercusuar akal dan panduan berpikir. Kapan kita akan menyadari dan memikirkan hal ini?[]

free counters